RANGKUMAN BAB IX. PENGUKURAN DAN PENILAIAN RANAH AFEKTIF DALAM PJOK
BAB IX
PENGUKURAN DAN PENILAIAN RANAH AFEKTIF
DALAM PJOK
Pengarang : Drs. Ngatman, M.Pd
Penerbit : CV. Sarnu Untung
Kota Terbit : Jalan R. Suprapto,GG. Pringgodani, RT.07/RW.21, Jetis Timur, Purwodadi, Kec. Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58111
Tebal Buku : 224 hal
Cetakan Ke : 1, Mei 2017
Ukuran : 15,5 x 23 cm
A. HUBUNGAN ANTARA EVALUASI
PJOK DAN RANAH AFEKTIF
Tujuan
pendidikan jasmani tersebut terdiri dari:
(1) Untuk mengembangkan alat-alat atau organ-organ tubuh,
(2) Untuk mengembangkan neuromuskuler (keterampilan dalam aktivitas
jasmani),
(3) Untuk mengembangkan interpretif (pengetahuan, pertimbangan,
pengertian dan lain-lain yang sejenis),
(4) Untuk mengembangkan persoalan-persoalan sosial (sikap,
sportivitas, kerjasama, percaya diri, dan lain-lain).
Tujuan nomor 1 digolongkan kedalam ranah fisik, tujuan nomor 2
digolongkan kedalam ranah psikomotor, tujuan nomor 3 digolongkan ke dalam ranah
kognitif, dan tujuan nomor 4 digolongkan kedalam ranah afektif (Annarino dkk.,
1980: 65).
Langkah-langkah
dalam penilaian menurut Arma Abdoellah (1988: 2) terdiri dari:
(1)
Merumuskan tujuan,
(2)
Membuat atau memilih alat penilai sesuai dengan tujuan,
(3)
Menggunakan alat penilai untuk memperoleh data,
(4)
Mengolah dat untuk memperoleh satu penilaian.
Adapun
hirarkisme ranah afektif tersebut
terdiri dari:
1. Penerimaan atau receiving
Berarti
kesediaan siswa-siswa mengikuti gejala atau rangsangan tertentu. Penerimaan merupakan
hasil belajar dari tingkat yang paling rendah dalam ranah afektif ini.
2.
Jawaban atau responding
Berarti siswa
berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar-mengajar pendidikan jasmani. Hasil
belajar dalam bidang ini mungkin menekankan kemauan siswa untuk menjawab
pertanyaan dan kepuasan dalam menjawab siswa.
3.
Penilaian atau valuing
Penilaian
berkenaan dengan usaha siswa memberikan nilai terhadap suatu objek, gejala atau
tingkah laku yang satu dengan yang lain mulai dari penerimaan yang bersifat sederhana
sampai kepada komitmen yang komplek.
4. Organisasi atau organization
Organisasai
berkenaan dengan mempersatukan nilai-nilai yang berbeda, memecahkan
pertentangan sesama mereka dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani dan mulai membangun suatu nilai batiniah yang
tetap. Jadi penekanannya adalah menghubungkan
dan mensintesakan nilai-nilai.
5.
Karakterisasi sebuah
nilai atau seperangkat nilai atau characterization
by a value or value complex
Karakterisasi
sebuah nilai atau seperangkat nilai adalah keterpaduan semua sistem nilai yang
telah dimiliki oleh siswa yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Dalam manifestasi pengajaran pendidikan jasmani,
siswa selalu berperilaku konsisten dalam semua aspek kehidupan dengan
memperlihatkan perilaku sportif dan selalu memiliki kesediaan untuk mengambil
jenis aksi tertentu.
B. SIKAP DAN NILAI
Sikap itu terkait dengan emosi dan
perasaan seseorang terhadap suatu objek. Berkaitan dengan permasalahan sikap,
Muller merumuskan definisi Thurstone sebagai berikut. Sikap adalah:
1.
Perasaan suka atau tidak suka kepada,
2.
Penilaian dari.
3.
Senang atau tidak senang kepada (like or
dislike of).
4.
Kepositifan atau kenegatifan terhadap satu
objek psikis.
Milton
Rokeach (1973: 395), mengatakan bahwa nilai adalah satu keyakinan yang mantap
bahwa cara tingkah laku atau keadaan akhir suatu keberadaan secara pribadi atau
social lebih disukai daripada cara bertingkah laku atau keadaan akhir suatu
keberadaan yang sebaliknya atau yang berlawanan.
Dari
sebelas konsep sebagaimana disampaikan oleh Remmers tersebut, akan diuraikan
tiga konsep yang sangat erat kaitannya dengan sikap, yaitu:
1.
Minat (interest) sebagaimana dapat diamati
pada perilaku, mencerminkan perasaan senang atau tidak senang, suka atau tidak
suka, tertarik atau tidak tertarik.
2.
Motif berhubungan dengan sikap karena
sikap adalah aspek penting dari motif.
3.
Apresiasi mengandung arti suatu proses
afektif yang emosional.
C. POLEMIK ATAU ISU PENILAIAN RANAH
AFEKTIF DALAM PENJASORKES
Ada beberapa permasalahan yang perlu
dicermati oleh para guru pendidikan jasmani dalam melaksanakan pengukuran dan
penilaian ranah afektif. Permasalahan-permasalahan tersebut terdiri dari:
1.
Kebanyakan instrument untuk menilai
perilaku afektif mengandung kemungkinan distorsi jawaban.
2.
Kegagalan untuk menetapkan suatu kerangka
kerja teoritis yang memadai untuk konsep minat.
3.
Alat penilaian untuk mengukur ranah
afektif masih jarang.
Persoalan-persoalan
senada juga dikemukakan oleh Rusli Lutan, Dkk., (2000: 129-131) yang mengatakan
bahwa:
1.
Ada perbedaan yang amat mendasar antara
skor pengukuran dalam pendidikan jasmani, keterampilan gerak, skor tes
kemampuan kognitif, dan skor tes kemampuan ranah afektif,
2.
Hasil pengukuran ranah afektif juga
dipengaruhi oleh factor situasional, terutama motif pemanfaatan hasilnya.
3.
Pengukuran ranah afektif terkait dengan
latar belakang budaya yang membentuk jawaban responden, seperti halnya
ukuran-ukuran kepatutan perilaku disuatu daerah
4. Siswa cenderung mengemukakan jawaban yang tidak sesungguhnya sesuai
dengan kenyataan yang ada apabila mengetahui bahwa dirinya sedang dinilai.
5. Hasil pengukuran ranah afektif tidak stabil, hal ini terkait
dengan variasi dari hari ke hari yang dialami oleh siswa.
6. Konstruksi butir tes dalam menilai ranah afektif cenderung
mengeceh responden,
7. Konstruksi butir tes dalam penilaian ranah afektif cenderung
mendorong responden menjawab bagaimana patutnya yang ideal dan terbaik.
8. Pengukuran ranah afektif
yang terdiri dari respon berupa kategori yang menunjukkan derajat,
seperti: sering kadang-kadang, jarang sekali.
9. Kriteria pengukuran ranah afektif tidak memadai.
Apabila
pendapat-pendapat pakar penjasorkes tersebut dikaitkan dengan arah dan
kebijakan tujuan pembangunan nasional Indonesia di bidang pendidikan, maka
penilaian ranah afektif harus menjadi bagian yang integral dari system
penilaian dalam penjasorkes di sekolah terlebih lagi jika mencermati substansi
system penilaian penjasorkes yang tertuang pada Kurikulum 2013.
D. EVALUASI DALAM RANAH AFEKTIF
Menurut Safrit (1986: 372) walaupun alat
evaluasi telah banyak dibuat untuk mengukur ranah afektif yang menjadi
perhatian bagi guru pendidikan jasmani namun hanya sedikit yang telah dibuat
menurut standar penyusunan tes pendidikan dan psikologi. Safrit dalam menyusun
tes untuk menilai ranah afektif menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
menentukan tujuan tes, mendeskripsikan tes, menyusun materi, cara mensekor,
kesahihan, keteterandalan, norma, dan ulasan.
Dengan demikian guru penjasorkes yang di
hasilkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) perlu dibekali
dengan kemampuan membuat tes untuk ranah efektif, selain ranah kognitif dan
ranah psikomotor.
Beberapa
instrument yang efektif telah disusun untuk mengukur
perilaku sosial, sikap, dan penyesuaian diri terhadap pengajaran pendidikan
jasmani. Menurut Miller (2002: 285-286) ada 7 jenis inventori yang dapat
dipergunakan sebagai instrumen untuk menilai ranah afektif, di antaranya:
1. Inventori sikap atau attitude inventories
Banyak
penelitian-penelitian penelitian terdahulu dalam pendidikan jasmani tentang
ranah afektif berfokus pada sikap dan pengukurannya. Sikap adalah kesiapan
untuk berbuat yang masih pada taraf mental sehingga disebut juga dalam istilah
predisposisi mental untuk berbuat.
Inventori
sikap merupakan salah satu jenis inventori yang bertujuan mengungkap “perasaan
suka atau tidak suka ” dan dijawab sendiei oleh responden. Inventori sikap
biasanya tertuju pada pengungkapan kedua kecenderungan itu yang dipahami
bergerak dalam sebuah garis kontinum.
Berkenaan
dengan kontek pendidikan jasmani, inventori sikap sebenarnya dikembangkan untuk
mengukur 6 (enam) dimensi keterlibatan aktif dan pasif dalam aktivitas jasmani,
yaitu:
a. Aktivitas jasmani sebagai pengalaman social
b. Aktivitas jasmani untuk kesehatan dan kebugaran
c. Aktivitas jasmani sebagai pengejaran kepentingan (sensasi atau kebehagiaan)
d. Aktivitas jasmani sebagai pengalaman estetis
e. Aktivitas jasmani sebagai katarsis (perasaan terharu)
f. Aktivitas jasmani sebagai pengalaman asetis atau pertapa
2. Inventori minat atau interest inventories
Bagaimana
kecenderungan minat siswa terhadap proses belajar-mengajar pendidikan jasmani
dapat diungkap melalui inventori minat yang bisa dijawab sendiri oleh
responden.
3. Inventori sportivitas (sportmanship)
Instrumen ini
tertuju pada beberapa aspek perilaku sportif, seperti: ketaatan seseorang
terhadap peraturan, penerimaan kekelahan dan kemenangan secara terhormat, dan puas apabila berbuat sesuatu hal yang baik bagi
kelompok maupun terhadap pihak lawan (Miller,2002: 267).
4. Inventori kepemimpinan (leadership)
Inventori
kepemimpinan dimaksudkan untuk mengidentifikasi siapa di antara siswa yang
dapat ditunjuk sebagai pemimpin seperti: ketua kelas, ketua regu, kapten tim,
dan
kepentingan lain yang berkaitan dengan kepemimpinan
di kelas maupun di sekolah. Yang ingin diukur
dari inventori ini adalah tingkat kecakapan atau keterampilan memimpin.
5. Inventori perkembangan sosial (social behaviour)
Inventori
perkembangan sosial bertujuan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa itu
dapat diterima oleh siswa lainnya, atau dapat pula digunakan untuk
mengukurseberapa jauh siswa mampu menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan
di kelas atau di sekolah.
6. Rating perilaku (behavior rating)
Rating yang dilakukan oleh guru pendidikan jasmani meliputi beberapa
aspek perilaku yang berbeda, di antaranya: sportivitas, kepemimpinan, sikap,
pengendalian diri (self control), motivasi intrinsik, kerjasama, dan
hubungan antara teman sejawat (Miller, 2002: 267).
7. Inventori kepribadian (personality inventory)
Inventori
kepribadian diarahkan untuk mengukur sifat-sifat atau ciri-ciri, seperti:
kontrol emosi, kepercayaan diri, motivasi, sifat agresif, determinasi,
ketenangan (poise), dan ketegaran mental (mental toughness)
(Miller, 2002: 267). Inventori ini terdiri dari sejumlah butir tes yang diisi atau diselesaikan sendiri
oleh siswa.
E. TIPE-TIPE SKALA PENGUKURAN DAN
PENILAIAN RANAH AFEKTIF
Untuk mengungkap data yang berkenaan dengan ranah afektif lazimnya
dapat menggunakan skala. Skala adalah seperangkat set angka-angka yang
menyatakan nilai-nilai tentang suatu
ojek atau perilaku, dan atas dasar itu nilai kualitatif dinyatakan secara
kuantitatif (Nurhasan, 2001: 113). Skala sering
dipergunakan untuk mengukur sikap dan karakteristik lainnya, misalnya: skala
dipergunakan untuk mengukur sikap para siswa terhadap pendidikan jasmani atau
topik-topik lainnya.
Untuk mengumpulkan data yang mengungkapkan aspek dari ranah
afektif, dapat mempergunakan instrumen yang bervariasi. Dua metode yang paling
populer dan semakin sering dipergunakan sebagai instrumen untuk pengukuran dan
penilaian ranah afektif dalam pendidikan jasmani adalah:
1. Metode Kuantitatif
a. Skala Likert
Skala Likert
merupakan skala nilai 5 atau 9 (nilai 1-5 atau nilai 19) yang mengasumsikan
sama di antara tanggapan. Responden menentukan jawabannya sendiri sesuai dengan
pendapat atau perasaannya. Dengan
menggunakan lima, tujuh, atau lebih interval jawaban, juga akan semakin meningkatkan reliabilitas instrument tersebut.
Prosedur pembuatan Skala Likert
menurut Mueller (1986: 17) adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi objek sikap, secara khusus diberi batasan.
b. Kumpulkan sejumlah butir pendapat / opini (30 butir atau lebih)
mengenai objek sikap.
c. Berikan butir-butir yang telah dikumpulkan itu kepada sekelompok
tertentu
d. Tentukan jumlah kategori skala.
e. Jumlahkan setiap skor jawaban testi.
f. Korelasikan skor total dari semua testi dengan skor butir/individu
untuk semua testi (satu butir demi satu butir)
g. Butir yang korelasi negatif atau nol ditiadakan atau dibuang.
b. Skala Diferensial Semantik (Semantic Differential Scales)
Pada skala
ini siswa/responden diminta untuk menanggapi kata sifat bipolar, pasangan kata
sifat dengan makna yang berbeda, seperti: lemah-kuat, rilek-tegang,cepatlambat,
berat-ringan, aktif-pasif dan lain-lain.
Dengan menggunakan kata sifat bipolar, responden diminta untuk memilih nilai
pada rangkaian tersebut yang paling menggambarkan perasaan mereka tentang
konsep tertentu.
c. Skala Urutan-Peringkat (Rank Order)
Skala
urutan-peringkat mensyaratkan bahwa butir-butir harus diberi peringkat oleh
penjawab sesuai dengan kriteria tertentu. Dalam instrument ini, satu seri
konsep satu-nilai (single value), seperti: kesamaan, kebebasan,
pengakuan social diberikan individu untuk diberi peringkat menurut
pentingnya bagi individu (Arma Abdoellah, 1988: 175-176).
d. Skala Butir Pilihan-Paksa (Forced-Choice)
Menurut Arma Abdoellah (1988: 176) dengan skala pilihan-paksa
individu diminta untuk memilih di antara dua atau lebih alternatif yang
kelihatannya sama baik atau sama tidak baik.
2. Metode Kualitatif
Metode yang semakin populer akhir-akhir ini untuk mengukur dan
menilai ranah afektif adalah metode kualitatif karena metode tersebut
memberikan kekayaan informasi yang biasanya tidak dimanfaatkan ketika digunakan
kuesioner tradisional. Dua cara yang paling sering dipergunakan oleh metode kualitatif
untuk pengukuran dan penilaian ranah afektif dalam pendidikan jasmani adalah
melalui:
a. Wawancara (interview)
Tidak diragukan lagi bahwa wawancara merupakan sumber data yang
paling umum pada metode kualitatif. Mencatat selama melakukan wawancara merupakan
metode yang sering digunakan lainnya untuk merekam data, kadang-kadang
digunakan untuk bantuan perekaman ketika pewawancara ingin menekankan hal
penting tertentu.
b. Observasi
Observasi juga merupakan salah satu teknik pengukuran dan
penilaian ranah afektif dalam pendidikan jasmani dari metode kualitatif. Salah satu
tujuan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang tertuang dalam kurikulum
penjasorkes di sekolah mencakup penilaian ranah afektif, maka guru penjasorkes
berusaha untuk menilai sejauh mana tujuan ranah afektif telah dicapai.
Oleh karena itu guru penjasorkes perlu memiliki bekal pengetahuan
dan pemahaman dalam menyusun alat evaluasi untuk mengukur dan menilai ranah
afektif, para pakar penjasorkes di Indonesia juga dituntut untuk menyusun dan
mengembangkan berbagai macam alat evaluasi untuk mengukur ranah afektif agar
dapat digunakan oleh para guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk
menilai hasil belajar siswa di sekolah.
KESIMPULAN:
Tujuan pendidikan jasmani pada ranah afektif adalah untuk
mengembangkan persoalan-persoalan sosial (sikap, sportivitas, kerjasama,
percaya diri, dan lain-lain). Hirarkisme ranah afektif tersebut terdiri dari: Penerimaan, jawaban,
penilaian, organisasi, dan karakterisasi sebuah nilai atau seperangkat nilai.
Kebanyakan
instrument untuk menilai perilaku afektif mengandung kemungkinan distorsi
jawaban. Kegagalan untuk menetapkan suatu kerangka kerja teoritis yang memadai
untuk konsep minat. Alat penilaian untuk mengukur ranah afektif masih jarang. Hasil
pengukuran ranah afektif juga dipengaruhi oleh factor situasional, terutama
motif pemanfaatan hasilnya. Hasil pengukuran ranah
afektif tidak stabil, hal ini terkait dengan variasi dari hari ke hari yang
dialami oleh siswa.
Penilaian
ranah afektif harus menjadi bagian yang integral dari system penilaian dalam
penjasorkes di sekolah terlebih lagi jika mencermati substansi system penilaian
penjasorkes yang tertuang pada Kurikulum 2013.
Metode yang semakin populer akhir-akhir ini untuk mengukur dan
menilai ranah afektif adalah metode kualitatif karena metode tersebut
memberikan kekayaan informasi yang biasanya tidak dimanfaatkan ketika digunakan
kuesioner tradisional.
Guru penjasorkes perlu memiliki bekal pengetahuan dan pemahaman
dalam menyusun alat evaluasi untuk mengukur dan menilai ranah afektif, para
pakar penjasorkes di Indonesia juga dituntut untuk menyusun dan mengembangkan
berbagai macam alat evaluasi untuk mengukur ranah afektif agar dapat digunakan
oleh para guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk menilai hasil
belajar siswa di sekolah.
SUMBER :
https://www.uny.ac.id/
https://www.uny.ac.id/
Komentar
Posting Komentar