RANGKUMAN BAB VI. SISTEM EVALUASI DALAM PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PJOK)
BAB VI
SISTEM EVALUASI
Judul : EVALUASI PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN
Pengarang : Drs. Ngatman, M.Pd
Penerbit : CV. Sarnu Untung
Kota Terbit : Jalan R. Suprapto,GG. Pringgodani, RT.07/RW.21, Jetis Timur, Purwodadi, Kec. Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58111
Tebal Buku : 224 hal
Cetakan Ke : 1, Mei 2017
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Pengarang : Drs. Ngatman, M.Pd
Penerbit : CV. Sarnu Untung
Kota Terbit : Jalan R. Suprapto,GG. Pringgodani, RT.07/RW.21, Jetis Timur, Purwodadi, Kec. Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58111
Tebal Buku : 224 hal
Cetakan Ke : 1, Mei 2017
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Sistem evaluasi adalah sistem pemberian nilai atau grade
yang pada umumnya dilakukan
oleh
para guru penjasorkes pada tengah dan akhir semester. Nilai yang diberikan itu berdasarkan
pada
data yang diperoleh dari tes yang diberikan oleh guru penjasorkes kepada para
siswa sesuai
dengan
tujuan-tujuan yang telah dirumuskan untuk dicapai dengan proses belajar yang
direncanakan dan dilaksanakan oleh guru penjasorkes tersebut. Nilai
adalah simbol yang dipakai untuk menyatakan kemajuan dan pencapaian siswa dalam
proses belajar-mengajar.
A. STATUS DAN ESENSI
PRAKTIK PEMBERIAN NILAI
DALAM MATA PELAJARAN PENJASORKES (PJOK)
Safrit dan Wood (1989:309-310) menunjukkan suatu fakta bahwa
selama 25-30 tahun
belakangan
ini hanya sedikit evaluasi yang sistematik
untuk menilai pembelajaran pendidikan jasmani. Faktor kehadiran yang
paling sering digunakan sebagai dasar untuk pemberian nilai dalam pelajaran
pendidikan jasmani. Pemberian nilai dalam mata pelajaran penjasorkes terutama
didasarkan pada partisipasi dan berpakaian seragam siswa.
Hasil penelitian Hensley
dkk (1978) melaporkan
bahwa 58% dari responden melaporkan penggunaan PAP dalam penilaian sedangkan
37% melaporkan menggunakan penilaian acuan normal (PAN) atau norm referenced
evaluation. PAP lebih sering digunakan oleh para guru yang kurang
pengalaman, sedangkan pendidik yang lebih
berpengalaman menggunakan
penilaian PAN.
B. KEGUNAAN NILAI DALAM MATA
PELAJARAN PENJASORKES (PJOK)
Adapun
kegunaan pemberian nilai dalam penjasorkes di antaranya :
a.
Bagi peserta didik
Para siswa
dapat membandingkan nilainya dengan nilai yang didapat oleh teman-temannya
sehingga ia dapat mengetahui kedudukannya di dalam kelas. Nilai dapat digunakan
siswa sebagai alat untuk memotivasi diri.
b.
Bagi orang tua
Nilai
diperlukan oleh orang tua siswa karena orangtua dapat mengikuti kemajuan dan keberhasilan
anak mereka. Nilai dapat pula berfungsi untuk memberi informasi tentang status
anak mereka dalam pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.
c.
Bagi guru atau pendidik
Nilai
mendorong guru membuat evaluasi dari setiap siswa dengan baik, jadi memberikan
satu pengertian yang lebih komprehensif tentang siswa. Nilai memberikan
informasi ke guru untuk digunakan dalam memberikan bimbingan. Siswa sangat
tertarik pada kemampuannya (performance).
d.
Bagi administrator
Karena kepercayaan masyarakat pada
kesahihan nilai, sering nilai dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan
administratif.
C.
DASAR-DASAR UNTUK
MENENTUKAN NILAI PJOK
Para pakar pengukuran dalam pendidikan jasmani dan olahraga
sependapat bahwa salah satu dasar penting untuk menentukan nilai terdiri dari
beberapa ranah. Yang pertama, ranah psikomotor meliputi pencapaian dalam
ketrampilan, kemampuan bermain dan kesegaran jasmani siswa. Yang kedua, ranah
kognitif dalam penjasorkes berkaitan dengan; pengetahuan penjasorkes, pemahaman
asas-asas dan mekanika gerak, peraturan pertandingan, keselamatan dalam
olahraga, kondisioning, sejarah olahraga dan lain-lainnya. Yang ketiga, ranah
afektif meliputi perilaku sosial, seperti: usaha, sikap dan sportivitas.
Dasar-dasar untuk memberi nilai penjasorkes menurut Safrit
(1981:330-333) adalah sebagai berikut:
a.
Pencapaian dalam
ketrampilan gerak sebagai dasar untuk menilai.
Pentingnya
pencapaian dalam ketrampilan gerak sebagai dasar menilai tergantung pada
tujuan-tujuan dari mata pelajaran penjasorkes.
b. Perbaikan dalam ketrampilan gerak sebagai dasar untuk menilai
Perbaikan
sangat diinginkan oleh siswa dan guru namun barang kali banyak masalah yang
timbul apabila menggunakan perbaikan sebagai dasar pemberian nilai daripada faktor-faktor lainnya.
Pertama, skor perbaikan tidak terandal (unreliable).
Untuk memperoleh skor perbaikan, skor tes akhir (post test) harus
dibandingkan dengan skor tes awal (pre test). Kedua,
jumlah perbaikan yang dapat dicapai oleh siswa akan tergantung pada tingkat
keterampilan awalnya. Ketiga, untuk dapat memberikan nilai berdasarkan
perbaikan perlu diperoleh skor tes awal.
c. Pengembangan keterampilan kognitif sebagai dasar untuk menilai
Telah ada
kesepakatan dari para pakar penjasorkes bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang
berbagai aspek pendidikan jasmani perlu menjadi bagian dari nilai siswa.
d.
Pengembangan keterampilan
afektif sebagai dasar untuk menilai
Nilai yang
didasarkan pada domain/ranah afektif ditentukan oleh faktor-faktor sikap,
kehadiran, sportivitas , usaha dan kerja keras.
e.
Usaha
Usaha sangat
sulit untuk dievaluasi. Apabila “usaha” menjadi dasar dalam
pemberian nilai siswa, maka
usaha harus dievaluasi dengan tingkat objektivitas yang dapat diterima.
f.
Sportivitas
Pengembangan
kebiasaan yang mencerminkan sportivitas menjadi salah satu tujuan dari banyak
program pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Namun proses pemberian nilai
untuk atribut ini (sportivitas) sering dilakukan secara sembrono dan tidak
dapat diandalkan.
g.
Kehadiran
Penentuan faktor-faktor sebagai dasar memberikan nilai kepada
siswa harus tergantung pada tujuan-tujuan penjasorkes. Kehadiran tidak tepat
untuk dijadikan faktor sebagai dasar pemberian nilai penjasorkes.
D.
KRITERIA-KRITERIA NILAI
DALAM PJOK
Ada
beberapa kriteria yang harus diperhatikan oleh guru penjasorkes dalam pemberian
nilai kepada siswa, diantaranya:
1. Terkait dengan tujuan-tujuan
Nilai
penjasorkes harus ditentukan berdasarkan keterkaitan dengan tujuan-tujuan
yang telah dirumuskan untuk
dicapai dalam pelajaran penjasorkes. Jadi nilai siswa harus
menyatakan tingkat profisiensi
siswa dalam mencapai tujuan-tujuan program yang telah
ditetapkan.
Nilai akhir dari pendidikan jasmani
olahraga dan kesehatan adalah gabungan dari nilai-nilai untuk setiap tujuan
yang menjadi indikasi pencapaian siswa dalam mata pelajaran penjasorkes.
2. Kesahihan
Nilai harus
mempunyain tingkat kesahihan atau ketepatan. Ketepatan pemberian nilai guru
penjasorkes menjadi rendah karena pada kenyataannya guru penjasorkes harus
mengukur hal-hal yang sulit untuk diukur jika harus konsisten dan berpegang
teguh pada ide dasar yang mengatakan bahwa nilai harus berkaitan dengan
tujuan-tujuan pembelajaran penjasorkes.
3. Keterandalan
Nilai harus
memiliki tingkat keterandalan yang dapat dipercaya. Sistem pemberian nilai
harus melaporkan secara konsisten apa yang dilaporkannya.
4. Objektivitas
Nilai harus
mempunyai tingkat objektivitas yang baik. Apabila tes bentuk objektif tidak
tersedia untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa guru penjasorkes
dapat menggunakan metode subjektif dalam
memberikan nilai tetapi metode subyektif yang dipakai sedapat mungkin
diobjektifkan.
5. Dapat dipahami
Nilai harus
dapat dipahami oleh siswa dan orangtuanya serta dengan mudah dapat
diinterprestasikan oleh guru
penjasorkes.
6. Pembobotan
Karena
faktor-faktor yang dinilai tidak sama pentingnya maka disarankan agar faktor-faktor tersebut diberi bobot sesuai
dengan pentingnya secara relatif. Pembobotan nilai akan mencerminkan penekanan materi pelajaran yang diberikan pada setiap tujuan
pembelajaran.
7. Diskriminasi
Nilai harus
mendiskriminasi atau membedakan antara tingkatan-tingkatan kemampuan siswa.
Jangan ada pengelompokan nilai baik pada tingkat kemampuan yang tinggi maupun
kemampuan yang rendah.
8. Ekonomis dan administrasi
Sistem
pemberian nilai harus ekonomis dalam waktu, biaya dan personalia. Jangan
terlalu banyak waktu digunakan untuk pelaksanaan pemberian nilai yang rumit.
E.
SISTEM METODE PEMBERIAN
NILAI PJOK
Ada beberapa metode pemberian nilai penjasorkes, di antaranya:
1. Metode persentase
mengacu pada persentase tugas
yang harus dikuasai oleh siswa.
Kelemahan metode persentase ini adalah guru penjasorkes agak sulit menentukan
persentase yang akan dipakai karena factor tingkat kesulitan tes yang akan digunakan.
2. Metode angka dan himpunan angka
Sistem
pemberian nilai penjasorkes dengan metode angka
sama dengan sistem Presentase.
Kelemahannya dari sistem pemberian nilai dengan metode angka ini adalah tingkat
kesulitan tes yang terlalu tinggi. Konsekuensinya akan terjadi tidak seorang
peserta didik yang mendapat nilai A, karena tes yang digunakan terlalu sulit.
Sebaliknya apabila tes terlalu mudah akan
banyak siswa yang memperoleh nilai A.
Prosedur metode
himpunan angka ditempuh dengan menjumlahkan beberapa angka atau nilai yang
diperoleh siswa dari setiap mata pelajaran. Beberapa angka atau nilai itu
diperoleh berdasarkan penguasaan pengetahuan, penguasaan keterampilan,
kerajinan mengikuti program dan lain-lain.
3. Metode kurva normal
Dalam metode
ini, sebuah distribusi normal dijadikan landasan penentuan nilai dengan asumsi
bahwa kemampuan peserta didik dalam tiap kelas terdistribusi secara normal.
Pemberian nilai dengan sistem Pendekatan Acuan Norma (PAN) menggunakan metode kurva normal.
Dua contoh pendistribusian nilai berdasarkan distribusi kurve normal adalah sebagai berikut:
4. Metode Kesenjangan Dalam Distribusi
Sebuah
distribusi skor tes biasanya memiliki kesenjangan skor, ada rentangan skor
tertentu dimana tidak seorangpun siswa mendapatkan skor pada rentangan
tersebut. Sebagai contoh, perhatikan table berikut ini.
Penentuan
nilai berdasarkan kesenjangan skor dapat berbeda-beda bagi setiap kelas yang
berbeda penyebaran skornya. Pemberian penilaian dengan metode kesenjangan dalam
distribusi ini sebaiknya jangan dipakai.
5. Penilaian Berdasarkan Kontrak
Guru dan
siswa yang bersangkutan mengikat kesepakatan tentang apan yang harus dilakukan
oleh siswa untuk memperoleh
nilai tertentu. misalnya; seorang siswa akan memperoleh nilai A jika dia mampu
menempuh lari sprint 100 meter
selama 12 detik (untuk putra), lompat jauh = 5 meter, tolak peluru berat 5 kg =
7 meter, 67 membaca 3 artikel tentang
atletik, dan menyusun makalah singkat (3-4 halaman) tentang atletik. Untuk
memperoleh nilai B, tentu beban tugasnya lebih rendah dari beban tugas untuk
memperoleh nilai A.
6. Pendekatan Portofolio
Pendekatan
portofolio pada dasarnya menekankan penghargaan kepada seluruh
pengalaman dan kemajuan siswa
baik yang diperagakan di sekolah maupun di luar sekolah. Pengalaman itu dapat
diklasifikasi sesuai dengan ruang lingkup dan tujuannya dan diselaraskan dengan
komponen tujuan pendidikan jasmani.
Ada dua
pendekatan yang dapat diterapkan jika guru pendidikan jasmani ini menerapkan
pendekatan portofolio dalam memberikan penilaian. Pertama, berbentuk laporan uraian tertulis untuk setiap kegiatan
yang kemudian dihimpun dalam sebuah file untuk setiap siswa. Kedua,
laporan dalam bentuk pengisian formulir yang disediakan.
7. Beberapa contoh sistem memberi nilai dalam mata pelajaran
penjasorkes
Apabila seorang siswa mendapatkan A untuk semua faktor maka siswa tersebut akan memperoleh poin atau sekor yang telah dibobot 120. Nilai akhir dinyatakan dalam persen. Jadi sekor yang telah dibobot sebesar 99 sama dengan 99/120 = 82.5% atau sama dengan nilai B.
SUMBER :
https://www.uny.ac.id/
https://www.uny.ac.id/




Komentar
Posting Komentar