RANGKUMAN BAB VII. PENYUSUNAN TES BENTUK OBJEKTIF UNTUK EVALUASI RANAH KOGNITIF DALAM PJOK
BAB
VII
PENYUSUNAN
TES BENTUK OBJEKTIF
UNTUK
EVALUASI RANAH KOGNITIF DALAM PJOK
Judul : EVALUASI PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN
Pengarang : Drs. Ngatman, M.Pd
Penerbit : CV. Sarnu Untung
Kota Terbit : Jalan R. Suprapto,GG. Pringgodani, RT.07/RW.21, Jetis Timur, Purwodadi, Kec. Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58111
Tebal Buku : 224 hal
Cetakan Ke : 1, Mei 2017
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Pengarang : Drs. Ngatman, M.Pd
Penerbit : CV. Sarnu Untung
Kota Terbit : Jalan R. Suprapto,GG. Pringgodani, RT.07/RW.21, Jetis Timur, Purwodadi, Kec. Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 58111
Tebal Buku : 224 hal
Cetakan Ke : 1, Mei 2017
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Memiliki pengetahuan tentang pendidikan
jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) merupakan salah satu tujuan PJOK mulai
dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Oleh sebab itu harus dilakukan
penilaian/evaluasi untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pengajaran PJOK itu
telah dicapai oleh peserta didik. Perkembangan kemampuan interpretif siswa yang
dijajagi dengan kemampuan tes pengetahuan (ranah kognitif) juga merupakan fokus
perhatian dalam penyelenggaraan PJOK. Dalam proses penilaian ranah kognitif ini alat evaluasi dapat menggunakan tes
tertulis bentuk objektif (objevtive test) dengan berbagai jenisnya, tes
tertulis bentuk uraian (essay test) maupun tes lisan. Ketiga jenis tes tersebut
tidak hanya mengukur pengetahuan tetapi dapat mengukur pengertian atau bahkan
pemahaman pembelajaran PJOK.
Penggunaan tes pengetahuan (tes ranah
rognitif) dalam PJOK jangan hanya dipergunakan untuk menilai hasil belajar
peserta didik akhir semester saja, namun guru PJOK dapat menggunakan tes
tersebut di awal proses pembelajaran
untuk mengetahui seberapa banyak cakupan materi pembelajaran yang akan
diajarkan telah diketahui peserta didik sehingga ia dapat menentukan apa yang
telah dikuasai maupun yang belum
dikuasai oleh sebagian besar peserta didiknya. Tes pengetahuan yang singkat
dapat diberikan dalam proses menyampaiakan materi pelajaran untuk memberikan
penekanan substansi yang lebih banyak pada hal-hal yang penting atau untuk
membantu peserta didik dalam membuat kesimpulan atau melihat kaitan materi
pembelajaran, serta untuk memberikan latihan dalam menggunakan pengetahuannya
dalam situasi baru.
Tes pengetahuan dapat juga dipergunakan
untuk penelitian, di antaranya: untuk kuis-kuis yang sering terhadap prestasi
belajar. Hasil-hasil penelitian ini ternyata memberi rekomendasi kepada guru
PJOK agar lebih memperbanyak pemberian tes tertulis untuk meningkatkan prestasi
belajar pengetahuan PJOK.
A.
Langkah-Langkah Pembuatan Tes Bentuk Objektif
PJOK
Berdasarkan studi literasi terkini di
Amerika Serikat telah banyak disusun tes pengetahuan yang dipergunakan untuk
menilai ranah kognitif untuk mata pelajaran sejarah, matematika, bahasa, ilmu
pengetahuan alam, dan mata pelajaran-mata pelajaran lainnya, namun baru sedikit
dijumpai tes pengetahuan untuk mata pelajaran PJOK. Penyusun tes pengetahuan
itu dibuat oleh oleh para ahli penyusun tes (expert of test construction) dan
ahli dalam mata pelajaran (expert of subject matter test) sehingga menghasilkan
sebuah tes yang populer dikenal dengan
tes standar (standardized test) dari masing-masing mata pelajaran tersebut.
Pada uraian selanjutnya akan dibahas
langkah-langkah bagi guru PJOK Dalam
menyusun tes pengetahuan PJOK khususnya tes bentuk objektif. Adapun
langkah-langkahpenyusunan tes bentuk objektif dalam PJOK adalah sebagai berikut:
(1) distribusi isi atau substansi materi pelajaran, (2) memilih tipe item atau
pertanyaan dalam tes, (3) melaksanakan tes yang telah dibuat, dan (4) menilai
atau mengevaluasi tes yang dibuat.
1. Distribusi isi atau
materi pelajaran
Langkah pertama dalam penyusunan tes
pengetahuan dalam mata pelajaran PJOK adalah menentukan tujuan untuk apa tes
itu akan digunakan. Apabila tujuan tes itu digunakan untuk ujian semesteran
atau untuk kepentingan klasifikasi/penggolongan maka tes yang disusun harus komprehensif.
Pada umumnya sebagian besar pertanyaan/soal harus berkaitan dengan
konsep-konsep yang dianggap penting. Berpedoman pada daftar isi pelajaran yang
terdapat dalam buku materi pelajaran akan menghasilkan distribusi pertanyaan
yang baik dan juga akan meniadakan penggunaan bahasa buku.
Berikut disajika sebuah ilustrasi dalam
usaha mendistribusikan jumlah pertanyaan sesuai dengan substansi isi materi
pelajaran tentang pengetahuan permainan bola voli untuk siswa yang memilih
olahraga sebagai bidang keahliannya dapat dilihat pada tabe.
|
Pengetahuan
Permainan Bola Voli
|
Jumlah
Item tes
|
(%)
diestimasikan
|
|
Analisa teknik-teknik dan gaya (style) bermain bola voli
|
3
|
5
|
|
Analisis situasi permainan dan penggunaan
keterampilan bola voli
|
8
|
13
|
|
Pengetahuan Umum (sejarah, pemeliharaan
alat-alat
dan fasilitas bola voli, tindakan
pencegahan cidera bola voli)
|
3
|
5
|
|
Bagaimana menghindari pelanggaran dalam
permainan bola voli
|
3
|
5
|
|
Cara-cara mengoper bola (passing) dan malakukan
smash
|
2
|
4
|
|
Peraturan-peraturan penting untuk
bermain bola voli
|
15
|
25
|
|
Taktik dan strategi bermain
|
22
|
37
|
|
Istilah-istilah dalam permainan
bola voli
|
4
|
6
|
|
Jumlah
|
60
|
100
|
2. Memilih tipe item atau
pertanyaan dalam tes
Setelan menentukan proporsi jumlah
pertanyaan atau soal, langkah berikutnya adalah memilih tipe item atau
pertanyaan yang paling tepat dan sesuai dengan materi pelajaran. Menurut Scott
dan French ada kurang lebih 50 buah macam atau tipe item yang tepat digunakan
oleh penyusun tes jawaban-pendek. Sungguhpun demikian item tes tersebut dapat
digolongkan ke dalam dua golongan besar, yaitu: (1) tipe isian (supply type)
dan (2) tipe pilihan (selection type).
Kedua tes tipe isian dan tipe pilihan sering juga disebut dengan tes tipe
ingatan (recall) dan tipe pengenalan (recognition). Kedua tes tipe isian dan tes tipe pilihan dengan
jelas menunjukkan bahwa tugas siswa apakah harus mengisi katakata, angka, huruf
atau simbol lainnya sebagai jawaban (supply type) atau siswa harus memilih
jawabanya dari sejumlah pilihan atau alternatif yang diberikan (selection
type).
3. Melaksanakan tes yang
telah dibuat
Dalam melaksanakan tes yang telah disusun,
seorang guru PJOK harus memperhatikan beberapa kaidah-kaidah agar dalam
pelaksanaannya tidak mengalami hambatan. Kaidahkaidah yang perlu menjadi
atensi, di antaranya:
a. Apakah
telah dipikirkan dari sudut waktu yang tersedia, siswa dalam menjawab tes dapat
mempergunakannya seekonomis mungkin?
b. Apakah
petunjuk-petunjuk bagi siswa telah dibuat sesederhana mungkin dan mudah dapat
dipahami?
c. Apakah
cara dan tempat siswa dalam memberikan jawaban telah dipikirkan agar dalam
pemberian nilai nanti dapat dilakukan secara efisien, teliti, dan seekonomis
mungkin?
d. Apakah
tipografi dari susunan pertanyaan masih dapat diperbaiki?
e. Apakah
pertanyaan dalam tes telah disusun secara hirarkis dimulai dari soal yang mudah
meningkat kepada yang sulit?
f. Apakah
waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal tes cukup memadai sesuai dengan
jumlah soal yang harus dikerjakan siswa?
Parameter-parameter di atas sudah jelas
tidak akan mungkin dapat dipenuhi semuanya, namun kriteria tersebut merupakan
petunjuk yang sedapat mungkin dipenuhi oleh guru PJOK dalam menyusun tes untuk
menilai ranah kognitif dalam pendidikan jasmani. Walaupun prosedur pelaksanaan
tes itu mudah tetapi perlu direncanakan dengan seksama dn hati-hati. Hal-hal
yang perlu diperhatikan oleh guru PJOK dalam melaksanakan tes pngetahuan untuk
mengukur ranah kognitif meliputi;
a. Ruangan
harus tenang, cukup ventilasinya dan sistem penerangannya cukup memadai.
b. Tempat
duduk harus berjauhan satu dengan yang lain atau siswa disuruh duduk dengan
antara satu kursi satu dengan yang lain. Hal ini tidak begitu penting apabila
menggunakan kertas jawaban yang terpisah.
c. Buku-buku
dan catatan tidak boleh dibawa masuk ke dalam ruang ujian.
d. Jangan
diberikan petunjuk untuk membuat tes secara lisan tetapi harus dimuat secara
eksplisit dalam tes.
e. Usahakan
sungguh-sungguh bahwa setiap siswa hanya mendapatkan satu berkas tes dan semua
tes harus diserahkan kembali apabila ujian sudah selesai. Jika soal tes telah
diberi nomor pengecekan jumlah sal tes yang harus kembali lebih mudah. Setiap
siswa diminta untuk menyerahkan sendiri kertas ujian.
f. Siswa
diminta segera menyerahkan kertas ujian apabila ia telah selesai
mengerjakannya.
g. Bagikan
kertas ujian secara terbalik dan mulai mengerjakan sol ujian secara bersama
sama.
h. Tidak
boleh membantu dalam memberikan penjelasan mengenai pertanyaan soal tes.
4. Menilai atau
mengevaluasi tes yang dibuat.
Setelah item-item tes atau pertanyaan
selesai dibuat perlu item-item tersebut dinilai terlebih dahulu tingkat
kelayakan tes dengan mempergunakan daftar cek (check list). Beberapa hal yang
perlu diperhatikan oleh guru PJOK dalam menilai tes yang dibuat di antaranya;
a. Apakah
sebenarnya yang ingin diukur dari item tes?
b. Apakah
tujuan yang ingin diukur dari item tes itu dapat diterima? Apakah penting item
tes itu dimasukkan ke dalam soal tes.
c. Apakan
pernyataan/pertanyaan dalam item tes itu meragukan? Apakah item tes itu tidak
dapat dirumuskan lebih jelas lagi?
d. Apakah
item tes berisikan petunjuk yang tidak disengaja sehingga jawabannya mudah
diberikan?
e. Dalam
item pilihan berganda apakah ada di antara alternatif jawaban (option) yang
salah, nyatanya lebih masuk akal dari jawaban yang benar ditinjau dari
siswa-siswa yang pandai dalam kelompok testi? Apakah item tes itu terlalu sulit
untuk siswa yang pandai dalam kelompok testi?
f. Apakah
item tes telah dirumuskan seekonomis mungkin? Apakah item tes secara langsung
menanyakan maksudnya?
g. Apakah
tipe item tes telah disesuaikan dengan baik maksud yang akan dinilai? Apakah
dengan penyajian diagram makna item tes dapat lebih jelas lagi?
h. Apakah
siswa yang suka menghafal memperoleh keuntungan yang mencolok dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan? Apakah bahasa buku telah dihindari dalam penyusunan item
tes?
Cara lain untuk menilai item-item tes
sebelum dipergunakan adalah meminta bantuan kepada orang yang ahli (expert)
dalam penyusunan tes untuk menilai item tes yang dibuat. Dengan minta masukan
dari orang yang lebih ahli diharapkan tingkat ketepatan dan kualitas item tes
akan meningkat. Mengulangi sendiri dengan membaca pertanyaan-pertanyaan setelah
item tes itu dibuat dalam selang beberapa hari merupakan prosedur yang baik
untuk meningkatkan kualitas item tes yang dibuat oleh guru PJOK.
B. Konstruksi Tes PJOK
Bentuk Objektif
Disamping tes uraian (essay test), ada
item tes jenis lain yang juga sering dipergunakan oleh guru PJOK dalam kegiatan
belajar-mengajar. Item tes yang dimaksud adalah tes bentuk objektif. Tes ini
dikatakan objektif karena para siswa tidak dituntut merangkai jawaban atas
dasar informasi yang dimiliki seperti pada tes esai. Pada tes bentuk objektif,
jawaban pada umumnya sudah disediakan atau sudah diarahkan dan lebih bersifat
pasti. Secara garis besar bentuk tes objektif dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu: (1) tes objektif jenis isian
(supply type), dan (2) tes
objektif jenis pilihan (selection type) yang terdiri dari tiga tipe, yaitu:(1)
tes pilihan berganda/multiple choice, (2) tes benar-salah/true-false, dan (3)
tes menjodohkan/matching.
1. Tes Pilihan Berganda
(PB)/multiple choice test
Item tes pilihan berganda (PB) merupakan
jenis tes objektif yang paling banyak dipergunakan oleh para guru PJOK. Tes ini
dapat mengukur pengetahuan yang luas dengan tingkat domain yang bervariasi
mulai dari soal-soal pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisa, dan evaluasi.
Tes pilihan berganda memiliki semua persyaratan sebagai tes PJOK yang baik,
yakni dilihat dari segi objektivitas, reliabilitas, dan daya pembeda antara
siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal. Untuk mengetahui sejauh mana
tingkat penguasaan materi pembelajaran siswa, tes ini cocok dipergunakan
sebagai instrumen penilaian ranah kognitif PJOK mulai dari tingkat sekolah dasar
sampai perguruan tinggi. Berikut akan
disajikan rambu-rambu pembuatan pertanyaan
item tes PB
a. Untuk
pokok kalimat gunakan pertanyaan langsung, singkat, dan sederhana.
b. Hindari
alternatif-alternatif jawaban yang tidak masuk akan atau yang tidak terl;alu
jelas.
c. Susunlah
semua alternatif jawaban dengan bahasa yang ajeg, panjang, dan variasi dan
tepat.
d. Hindari
adanya dua jawaban yang benar, apabila petunjuk tes hanya mengatakan memilih satu jawaban yang benar. Seharusnya
dalam petunjuk dinyatakan memilih jawaban yang terbaik, dan kemungkinan ada
beberapa jawaban yang juga benar tetapi hanya ada satu jawaban yang terbaik
dari yang lainnya.
e. Hindari
petunjuk-petunjuk yang tidak disengaja, seperti: menempatkan jawaban yang benar
terus-menerus pada nomor atau urutan yang sama selalu dari deretan alternatif,
membuat jawaban yang benar selalu lebih panjang atau lebih pendek daripada
alternatifalternatif lainnya.
f. Hindari
penggunaan bahasa buku, apabila maksud pertanyaan itu untuk mengukur kemampuan
menggunakan satu konsep atau untuk mengukur pengerttian dan bukan hafalan.
g. Alternatif
jawaban sebaiknya seragam dalam bentuk dan struktur bahasa.
h. Butir
soal diberi nomor dengan angka, sedangkan alternatif jawaban dinyatakan dengan
huruf.
Contoh:
bentuk soal pilihan berganda
1.
Fungsi seorang pengumpan (set upper) dalam permainan bola voli adalah:
a. Meniadakan
putaran bola agar lebih mudah dan tepat dimainkan
b. Menempatkan
bola sehingga mudah untuk dilakukan smash
c. Mengoper
bola ke teman yang akan melakukan smash
d. Mendorong
kerja sama yang baik dengan rekan satu tim
Kunci Jawaban: b
2
. Kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas fisik dalam waktu yang
cukup
lama bergantung pada:
a. Efektivitas
kerja paru, jantung dan pembuluh darah.
b. Kemampuan
kerja paru, jantung dan pembuluh darah
c. Kapasitas
paru, jantung, dan pembuluh darah.
d. Kekuatan
kerja paru, jantung, dan pembuluh darah.
Kunci jawaban: a
Guru PJOK memilih dan menggunakan tes
objektif pilihan berganda sebagai instrumen untuk menilai hasil belajar
penjasorkes dengan argumentasi bahwa tes ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya;
a. Memiliki
validity atau tingkat keakuratan yang tinggi terutama karena abilities yangdiukur
jelas dan jawaban yang diharapkan juga pasti.
b. Memiliki
reliability atau tingkat kepercayan/konsistensi yang tinggi, teruama karena
menjawab benar ataupun salah dapat diberikan secara pasti oleh siapapun dan
kapanpun.
c. Cakupan
materi ajar yang mungkin untuk diujikan dapat lebih luas dan lengkap khususnya
keunggulan ini sulit dicapai oleh tipe tes esai.
d. Item
tes dapat dibuat singkat dan jelas. Keunggulan ini akan menghindarkan pemahman
yang ambiguous sehingga mudah dipahami serta mudah dikerjakan oleh peserta tes.
e. Cara
pemberian skor sangat mudah dilakukan oleh guru PJOK. Waktu yang dibutuhkan
oleh guru untuk memeriksa item-item tes dan memberi skor akhir tidak perlu
terlalu lama.
f. Kualitas
item tes dapat dianalisis dengan berbagai teknik statistik, seperti: item
difficulty analysis, item discriminant analysis, gessing dan lain-lain baik
berdasarkan classicaltheory maupun item response theory.
g. Tingkat
item difficulty dapat dikendalikan dengan mengubah homogenitas alternatif
jawaban. Semakin homogen alternatif jawaban suatu item akan semakin tinggi
tingkat kesulitan soalnya. Sebaliknya jika semakin heterogen alternatif jawaban
suatu item akan menyebabkan tingkat kesukaran soal semakin rendah.
Bagi guru PJOK yang memilih bentuk tes
objektif tipe pilihan berganda sebagai alat menilai hasil belajar siswanya
perlu juga diingatkan bahwa disamping memiliki kelebihankelebihan tersebut tes
tipe pilihan berganda juga memiliki berbagai kelemahan, di antaranya;
a. Membuat
item tes pilihan berganda tidak mudah, dibutuhkan ketekunan karena menyita
tenaga dan pikiran serta membutuhkan waktu yang panjang.
b. Tidak
semua sasaran belajar dapat diukur dengan tes pilihan berganda. Tes tipe
pilihan berganda lebih sering dan tepat dipergunakan untuk mengukur sasaran
belajar ranah kognitif pada tataran C1 (ingatan/recall) saja
c. Item
tes pilihan berganda memerlukan jawaban yang absolut, padahal secara teoritis
hasil belajar siswa kebanyakan tidak bersifat absolut tetapi kondisional.
d. Jawaban
yang diberikan siswa mengandung unsur gambling atau untung-untungan yang cukup
tinggi, artinya jawaban yang diberikan dapat ditebak sehingga hasil tes belum
tentu menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya.
e. Membutuhkan
banyak biaya, terutama karena item tes pilihan berganda biasanya cukup banyak
sehingga tidak ekonomis.
f. Makin
terbiasa siswa mengerjakan item tes pilihan berganda akan semakin besar
kemungkinannya untuk mendapatkan sekor yang besar (testwise)
2. Tes Betul-Salah
(B-S)/true-false
Penyusunan item tes B-S dalam pembelajaran
PJOK terdiri dari dua komponen pernyataan dan alternatif jawaban yang dapat
berbentuk betul-salah, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik atau pernyataan
lain yang harus bersifat mutual-exclusive. Item tes betulsalah di kalangan ahli
penyusun item tes juga mempunyai beberapa nama, misalnya jawaban berganti-ganti
(alternate response). Item tes betul-salah secara garis besar dapat dibedakan
menjadi dua macam bentuk, yaitu; (a) item tes bentuk regular atau tidak
dimodifikasi, dan (b) item tes bentuk modifikasi.
Dalam konteks pembelajaran PJOK, item tes
B-S bentuk regular atau tidak dimodifikasi adalah bentuk yang paling banyak
dikuasai dan digunakan oleh para guru PJOK. Namun sebaliknya, item tes B-S
bentuk modifikasi jarang dipergunakan karena dibutuhkan pengalaman dan pemahaman
dalam penyususunan soal serta kegunaannya secara umum terbatas pada siswa yang
lebih senior (mahasiswa).
Untuk mencapai hal tersebut guru PJOK
perlu menguasai dan mampu mengonstruksi item tes B-S dengan memperhatikan
beberapa aturan yang perlu dipenuhi oleh para evaluator atau guru PJOK.
Kaidah-kaidah penyusunan item tes B-S ini pada prinsipnya dapat digunakan untuk
mengonstruksi item tes B-S baik yang bentuk regular maupun bentuk modifikasi.
Adapun kaidah-kaidah penyusunan item tes
B-S yang peru diperhatikan oleh guru PJOK adalah:
a. Pernyataan
item tes B-S sebaiknya dibangun secara
cermat, sehingga para siswa tidak secara jelas dapat menerka item tes tersebut
b. Item
tes B-S tidak menanyakan hal-hal yang trivial tetapi harus benar-benar mampu
mengukur hasil belajar yang bermakna.
a. Contoh:
b. B
– S Kompetisi sepakbola Indonesia Super Liga (ISL) bukan hanya merupakan sebuah
olahraga yang cukup memasyarakat tetapi
sudah merupakan industri olahraga yang menjanjikan.
c. Setiap
item tes B-S harus menguji hasil belajar lebih tinggi dari sekedar
pengetahuan yang hanya mengandalkan
ingatan apalagi hanya mengingat kata atau frase.
d. Contoh:
e. B
– S Seorang perenang ingin meningkatkan kemampuan VO2 Max maka salah satu
metode latihan yang tepat dan harus digunakan adalah metode latihan interval
pendek.
c. Kunci
jawaban yang dibuat guru PJOK harus pada kategori yakin benar (berkaitan dengan
content validity). Jangan sampai kunci jawaban benar yang dibuat guru berbeda
dengan jawaban benar yang dipersepsikan oleh siswa. Hal ini dapat saja terjadi
terutama jika subjektivitas guru masuk dan mewarnai kunci jawaban.
f. Contoh:
g. B
– S Seorang guru PJOK tipe otoriter akan lebih berhasil dalam menghasilkan
siswa berprestasi olahraga dibandingkan dengan guru PJOK tipe demokratis.
d. Hindari
penggunaan kalimat yang terlalu panjang dan kompleks dengan kata-kata yang
mempunyai makna ganda.
e. Item
tes dengan kunci jawaban salah sebaiknya jumlahnya lebih banyak dari item
dengan kunci jawaban yang betul . Hal
ini penting dilakukan untuk membalik
proses berfikirhafalan yang biasanya hanya menghafal hal-hal yang benar tanpa
diimbangi oleh hal-hal yang salah. Jadi apabila siswa dapat menjawab item tes
B-S dengan benar, dapat diduga siswa tersebut juga dapat memahami hal-hal yang
salah.
f. Dalam
menyusun item tes B-S, guru PJOK hendaknya menuliskan huruf (B-S) pada setiap
permulaan item atau persoalan.
g. Pernyataan
pada setiap item sebaiknya tidak diambil dari kata-kata yang terdapat pada buku
(tex book) langsung.
Bagi guru PJOK yang menggunakan item tes
B-S perlu mengetahui dan memahami kelebihan dan kelemahannya agar dihasilkan
item tes yang baik dalam mengekplorasi kemampuan siswa.
Beberapa
kelebihan item tes B-S ini di antaranya:
1. Seperti
bentuk objektifitas tes lainnya, item tes B-S hasil akhir penilaian dapat
menjadi objektif,
2. Perangkat
item tes dapat mewakili seluruh pokok bahasan,
3. Mudah
diskor dan merupakan instrument yang baik untuk mengukur fakta dan hasil
belajar langsung khususnya sasaran belajar yang memerlukan kemampuan mengingat,
4. Dibandingkan
dengan bentuk tes objektif lainnya, pekerjaan penyusunan soal yang
digunakan dalam tes ini relative lebih
mudah,
5. Item
tes B-S memiliki karakteristik yang menguntungkan, yaitu mudah dan cepat dalam
menilai,
6. Item
tes B-S yang dikonstruksi secara cermat, membawa implikasi kepada siswa, yaitu
waktu mengerjakan soal lebih cepat diselesaikan.
Sedangkan
beberapa kelemahan item tes B-S adalah:
1. Item
tes B-S memiliki tingkat reliabilitas yang rendah,
2. Hasil
belajar yang diukur lebih banyak kognitif yang mengandalkan pada kemampuan
mengingat,
3. Mengkonstruksi
item tes B-S pada umumnya diperlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan
dengan tes esai,
4. Penggunaan
pertanyaan alternatif lebihmemungkinkan peserta didik mengira-ngira jawabannya,
5. Item
tes B-S kurang dapat membedakan siswa yang pandai dan yang kurang pandai. Ini
berarti item tes B-S memiliki daya diskriminasi yang rendah
6. Jika
konstruksi kalimat pada item tidak dibuat secara cermat, dapat membingungkan
siswa yang dites,
7. Probabilitas
antara jawaban salah dengan benar sama-sama 50 % sehingga siswa sangat mungkin
menggunakan pola menebak dalam menentukan jawabannya.
3. Tes
Menjodohkan/matching
Item tes menjodohkan sering disebut dengan
matching test item. Item tes menjodohkan ini termasuk dalam kelompok tes
objektif. Secara fisik, bentuk item tes menjodohkan terdiri dari dua kolom yang
sejajar. Pada kolom pertama berisi pernyataan (stem) yang sering disebut dengan
istilah daftar stimulus, dan kolom kedua berisi kata atau frasa yang disebut
juga daftar respon atau jawaban.
Item tes menjodohkan ini pada umumnya
dipergunakan terbatas pada pengukuran pengetahuan yang mencakup
istilah/terminologi olahraga, definisi atau batasan, fakta, dan asosiasi konsep
yang memiliki kaitan sederhana. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cross (1982)
bahwa “matching test items are appropriate for identifying the relationship
things”, artinya item tes menjodohkan adalah tepat untuk mengidentifikasi
hubungan antar sesuatu.
Item menjodohkan jika disusun dengan
cermat mampu mengukur pengetahuan batasan atau terminologi. Batasan definisi
maupun asas pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami oleh
siswa. Kemampuan mengukur batasan dan asas tersebut merupakan karakteristik
penting yang mampu membuat guru PJOK dan evaluator banyak mempertimbangkan
penggunaannya dalam mengukur pengetahuan para siswa.
Item menjodohkan pada prinsipnya dapat
mengevaluasi pengetahuan tentang fakta yang memiliki makna spesifik. Agar dapat
digunakan sebagai materi premis atau kolom respon, fakta harus ditulis
sederhana dan jelas. Apabila kedua kriteria tersebut tidak dapat dipenuhi maka
tipe tes lain perlu dipertimbangkan penggunaannya.
Tugas siswa dalam menjawab item tes tipe
menjodohkan adalah mencarikan pasangat yang tepat bagi pokok soal dengan
jawaban-jawaban yang tersedia. Menyusun item tes tipe menjodohkan tidaklah
mudah khususnya untuk mengukur kemampuan belajar afektif dan psikomotor. Item
tes dapat dikonstruksi dengan baik apabila penyusun tes memperhatikan hal-hal
berikut:
a. Pernyataan
pokok soal dan masing-masing pernyataan jawaban harus terdiri dari permasalahan
yang homogen, dengan ruang lingkup luas. Jika tidak memenuhi persyaratan
tersebut maka tingkat kemudahan item tes menjadi tinggi. Dengan demikian tentu
tidak akan memberikan manfaat dalam mengungkap kemampuan siswa yang sebenarnya.
b. Pernyataan
jawaban harus berjumlah lebih banyak daripada pernyataan pokok soal.
Perhatikan
contoh item tes tipe menjodohkan berikut:
Petunjuk:
tuliskan huruf yang cocok dengan pernyataan pada kolom sebelah kanan pada titik-titik yang disediakan di sebelah kiri.
|
Jawaban
|
Pokok Soal
|
Alternatif Jawaban
|
|
………
|
Latihan meningkatkan daya tahan
|
A. Asam laktat
|
|
………
|
Penyebab terjadinya kelelahan
|
B. VO2 Max
|
|
………
|
Beban latihan meningkat terus
|
C. Weight
training
|
|
……….
|
Kemampuan tubuh mengkonsumsi O2
|
D. Over
training
|
|
|
|
E. Interval
training
|
|
|
|
F. Superkompensasi
|
b. Lajur
sebelah kanan harus berisikan jawaban-jawaban dan jumlahnya harus lebih banyak
dua buah daripada yang ada pada lajur sebelah kiri.
c. Ruangan
untuk menuliskan jawaban yang berupa huruf atau angka dibuat di sebelah kiri
dari lajur sebelah kiri.
d. Isi
pernyataan/soal dalam tiap-tiap lajur (pokok soal dan alternatif jawaban) harus
sejenis (homogen).
e. Dalam
petunjuk mengerjakan tes harus dijelaskan apakah jawaban di lajur sebelah kanan
dapat dipergunakan lebih dari satu kali
atau tidak.
f. Semua
item untuk satu set tes mejodohkan sebaiknya ditempatkan pada satu halaman.
Penempatan kedua kolom pada halaman lain atau terpisah akan mengakibatkan siswa
membaca sambal membolak-balik halaman.
g. Isi
dalam kedua lajur harus disusun menurut abjad atau apabila isinya angka-angka
diurutkan dari angka yang terkecil ke angka yang terbesar
Contoh
:
|
Jawaban
|
Cabang
olahraga
|
Negara
asalnya
|
|
………
|
Anggar
|
A. Amerika Serikat
|
|
………
|
Atletik
|
B. India
|
|
………
|
Bola Basket
|
C. Inggris
|
|
………
|
Bulu Tangkis
|
D. Italia
|
|
………
|
Golf
|
E. Jerman
|
|
………
|
Polo Air
|
F. Perancis
|
|
………
|
Tenis Lapangan
|
G. Skotlandia
|
|
|
|
H. Spanyol
|
|
|
|
I. Yunani
|
Sebagai
salah satu alat evaluasi tes bentuk objektif tipe tes menjodohkan ini memiliki
beberapa keunggulan dan kelemahan.
Keunggulan
item tes tipe menjodohkan, di antaranya;
a. tepat
untuk mengukur hasil belajar berupa pengetahuan tentang definisi, istilah,
fakta, peristiwa, atau penanggalan,
b. menguji
dengan tepat kemampuan menghubungkan dua hal yang berhubungan langsung maupun
tidak langsung,
c. mudah
dikonstruksi sehingga guru PJOK dapat menghasilkan item tes untuk pokok bahasan
tertentu dalam waktu yang cukup singkat,
d. dapat
dipergunakan untuk menguji seluruh isi cakupan materi PJOK,
e. mudah
dalam melakukan pensekoran.
Sedangkan
kelamahan utama dari tipe tes menjodohkan adalah: tipe tes ini hanya mampu
dipergunakan untuk mengukur sasaran belajar aspek kognitif pada strata yang
paling rendah, yaitu pengetahua (C-1) yang sangat mengandalkan kemampuan
mengingat (recall). Dengan demikian sasaran belajar yang lebih tinggi
(pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa, dan evaluasi) dalam ranah kognitif
tidak dapat diukur dengan item tes menjodohkan.
4.Tes Isian (Supply test)
Tes objektif jenis isian lebih mirip
dengan tes esai sederhana. Pada item tes jenis isian memerlukan siswa untuk mengingat
materi pembelajaran, dan menyimpan informasi materi dalam pikiran, kemudian
menuangkannya dalam bentuk memberikan jawaban atas suatu pertanyaan.
Tes
objektif jenis isian pada prinsipnya mencakup tiga macam tes, yaitu;
1. tes
jawaban bebas atau jawaban terbatas,
2. tes
melengkapi, dan
3. tes
analogi/asosiasi.
Tes jawaban bebas mengungkap kemampuan
siswa dengan cara bertanya, tes melengkapi mengungkap kemampuan siswa dengan
memberikan ruang kosong atau spasi untuk diisi dengan jawaban (kata atau suku
kata) yang tepat, sedangkan tes analogi atau asosiasi mengungkap kemampuan
siswa dengan menyediakan ruang kosong atau spasi yang diisi dengan satu jawaban
atau lebih.
Jawaban dalam tes analogi tersebut masih
memiliki keterkaitan dan bersifat homogen antara satu dengan yang lainnya.
Ketiga tes objektif jenis isian mempunyai kemiripan, khususnya dalam tiga hal,
yaitu; (1) masing-masing tes memerlukan kemampuan siswa dalam menghafal, (2)
masing-masing tipe menuntut jawaban singkat dari para siswa, (3) masingmasing
tes pada umumnya direncanakan untuk mengungkap pemikiran siswa tentang materi
pembelajaran yang dikategorikan sebagai definisi atau batasan, pengetahuan
tentang fakta dan prinsip-prinsip pengetahuan.
Tes objektif jenis isian ini walaupun
sudah dikelompokkan sebagai tes objektif namun sebenarnya masih berkaitan
dengan tes esai karena tes ini masih menuntut jawaban bebas dan singkat dari
para siswa. Namun karena tes isian hanya memberikan kesempatan kepada siswa
menjawab dengan satu kata atau satu suku kata dan biasanya telah terikat dalam
definisi, fakta, dan atau prinsip-prinsip pengetahuan maka tes tersebut
dikatakan sebagai tes objektif jenis
isian (supply objective test).
Mengkonstruksi item tes merupakan langkah
penting yang harus dikuasai dengan baik oleh guru PJOK. Mengenai kemampuan apa
yang diperlukan untuk mengkonstruksi item tes objektif bentuk isian (supply)
dan pilihan (selection) pada umumnya dinyakatan oleh Grondlund (1995: 143),
“the construction of good test items is
an art. The skill is requires, however are the same as those found in
effective teaching”, maknanya penyusunan item tes yang baik pada prinsipnya
adalah seni. Keterampilan yang diperlukan pada prinsipnya sama dengan
keterampilan yang diperlukan dalam pengajaran yang efektif.
Agar mendapatkan tes jenis isian yang
memiliki kualitas susunan dan penampilan
yang baik, maka guru PJOK dapat mempertimbangkan beberapa petunjuk sebagai
berikut:
a. Nyatakan
petunjuk tes yang singkat dan jelas dengan cara memberikan garis bawah pada kata-kata kunci
b. Harus
diusahakan sungguh-sungguh bahwa hanya ada satu jawaban yang benar.
c. Tempat
yang disediakan untuk menulis jawaban harus sama panjang dan cukup panjang
untuk menulis jawaban yang terpanjang.
d. Untuk
memudahkan mensekor tempat untuk menulis jawaban ditempatkan di sebelah kiri
atau kanan kertas ujian.
e. Pertanyaan
diusahakan sedemikian rupa sehingga jawabannya sesingkat mungkin.
f. Tempatkan
spasi atau ruang kosong pada akhir kalimat dari item tes melengkapi.
g. Pilih
batasan atau terminologi dari suatu pengetahuan dengan menghilangkan kata
kuncinya. Kata kunci tersebut menjadi jawaban yang harus diisi oleh para siswa.
Berikut
akan disajikan contoh-contoh item bentuk tes objektif tipe isian (tes jawaban
bebas atau terbatas/melengkapi, enumerasi, dan asosiasi/analogi)
|
Tipe Tes
Isian
|
Contoh soal
|
|
1. Jawaban bebas atau terbatas
(melengkapi)
|
Alat pengukur lebar panggul:
…………………
Jawaban: caliper
Pengukuran bagain-bagian tubuh:
…………
Jawaban: antropometri
|
|
2. Enumerasi
|
Berikan empat keuntungan
dari perpindahan pertahanan daerah (zone
defense) ke pertahanan satu lawan satu (man to man defence) dalam permainan bola basket.
1. ………………………………………………………..
2. ………………………………………………………..
3. ………………………………………………………..
4. ………………………………………………………..
|
|
3.
Analogi/Asosiasi
|
Dalam kejuaraan beregu
suatu cabang olahraga setiap tim memperebutkan piala kejuaraan.
sepak bola: world cup,
bulu tangkis beregu putera:
thomas cup,
bulu tangkis beregu putri:
uber cup,
tenis lapangan beregu
putera ,
tenis lapangan beregu
puteri ,
tenis meja beregu putera ,
tenis meja beregu puteri:
…………………….
|
Bagi penyusun tes, khususnya guru PJOK
yang nantinya akan menggunakan item tes objektif bentuk isian ini sebagai
instrumen penilaian maka perlu mengetahui dan memahami kelebihan dan
kelemahannya agar dihasilkan item tes yang baik dalam menggali kemampuan siswa.
Kelebihan item tes bentuk isian ini adalah: (1) sangat baik
untuk tujuan mengungkap kemampuan kognitif yang rendah dan berguna bagi siswa
yang sejak awal ingin dididik dan dikembangkan melalui latihan-latihan yang
secara periodik dan bertahap meningkat kea rah jawaban yang lebih kompleks, (2)
dapat dipergunakan untuk mengetes batasan atau definisi pengetahuan yang sering
dipergunakan oleh para guru mata pelajaran umum maupun para guru PJOK.
Adapun kelemahan tes objektif bentuk isian
ini, di antaranya: (1) kurang cocok untuk tes dengan sasaran pengukuran domain
kognitif yang lebih tinggi, seperti: aplikasi (C3), analisa (C4), sintesa (C5),
dan evaluasi (C6), (2) tipe tes ini hanya tepat dipergunakan untuk tujuan
mengajar, jika penggunaan tes tipe ini yang terlalu banyak akan berpengaruh
pada pengembangan kemampuan siswa pada sasaran pengukuran domain konitif yang
paling rendah (C1).
SUMBER :
https://www.uny.ac.id/
https://www.uny.ac.id/
Komentar
Posting Komentar